Return on Investment (ROI) adalah metriks yang digunakan untuk mengetahui profitablitas dari sebuah investasi yang kita keluarkan. ROI membandingkan berapa banyak aset/uang yang telah kita keluarkan dengan berapa banyak profit/keuntungan yang kita dapatkan.

Apa itu ROI?

Ketika kita menginvestasikan uang ke sejumlah instrumen investasi ataupun bisnis, ROI membantu kita untuk memahami seberapa banyak keuntungan atau kerugian yang kita peroleh dari investasi kita. Singkatnya, ROI adalah rasio sederhana yang membagi keuntungan/kerugian bersih dari investasi dengan biayanya.

ROI dalam Digital Marketing

Seperti halnya bisnis dan investasi, ROI juga merupakan istilah yang cukup populer di dunia digital marketing. Di dunia online belakangan ini, para konsumen sekarang diperkenalkan, berhubungan langsung, dan melakukan pembelian dari bisnis online.

Digital marketing bukanlah senjata ajaib dari sebuah bisnis/perusahaan jika tidak dimonitor, diukur, dan diptimasi dengan baik. Salah satu cara terbaik untuk mengukur efektivitas dari upaya digital marketing adalah dengan menghitung ROI.

Berinvestasi terhadap bisnis dengan mengeluarkan uang kita untuk biaya pemasaran, terutama digital marketing adalah hal yang sia-sia jika pada akhirnya semua upaya tersebut tidak meningkatkan penjualan produk/jasa kita.

Mengukur Digital Marketing

Penemuan besar berupa komputer dan internet telah memberikan cara baru bagi para pemasar profesional untuk terus menerus menjangkau pelanggan mereka secara online.

Dengan fakta bahwa sebagian besar konsumen mengakses internet sehari-hari lewat smartphone, tablet, atau laptop mereka, digital marketing menjadi hal yang sangat penting dan bernilai bagi tiap-tiap rencana pemasaran bisnis.

Dalam pemasaran tradisional, ROI hanya diukur dengan peningkatan pendapatan dan penjualan dari berbagai kanal pemasaran, kampanye, atau strategi yang telah dibuat. Perusahaan-perusahaan cenderung tidak perlu repot-repot membuat sistem untuk menganalisa proses dan hasil dari usaha pemasaran mereka.

Jika penjualan mengalami kenaikan, perusahaan akan mengulangi upaya pemasaran yang sudah pernah dijalankan, tanpa evaluasi atau bahkan perbaikan metode pemasarannya. Sebaliknya, jika angka penjualan menurun, manajer pemasaran biasanya akan menghentikan usaha pemasarannya dan akan mencoba beralih ke metode pemasaran yang lain.

Para pemasar saat ini dapat mengukur seberapa efektif kampanye pemasaran yang sedang mereka jalankan lewat metrik ROI. ROI dari upaya digital marketing kita dapat dengan mudah dihitung tanpa memerlukan tools yang canggih. Di bawah ini adalah dasar perhitungan ROI serta beberapa hal penting lainnya yang perlu diperhatikan pada saaat kita mengukurnya.

Cara Menghitung ROI dalam Digital Marketing

Menghitung return on investment sangatlah sederhana, yaitu hanya dengan membandingkan keuntungan yang dihasilkan dari kampanye digital marketing dengan berapa biaya yang dikeluarkan dalam produksi kampanye tersebut. Idealnya, kita akan menginginkan ROI setinggi mungkin.

Dasar Perhitungan ROI

ROI = (KeuNTUNGAN BERSIH/TOTAL BIAYA YANG DIKELUARKAN)*100

Meski begitu, perhitungan return on investment tidak akan ada artinya jika kampanye pemasaran kita tidak memiliki tujuan atau objective, perhitungan data dan angka yang tidak akurat, dan salah dalam mengukur key performance indicator (KPI).

Hal-hal yang Perlu Dipersiapkan dalam Menghitung ROI

Sebelum mulai menghitung berapa banyak ROI yang telah kita peroleh dalam kampanye pemasaran kita, ada baiknya kita memperhatikan hal-hal berikut ini:

Memahami Objectives

Anggaplah kita ingin membuktikan kepada manajemen perusahaan kita bahwa strategi digital marketing kita telah sukses membawa keuntungan untuk perusahaan. Para pemasar cenderung tertarik untuk membuktikan ROI hasil pekerjaan mereka. Namun, bagaimana jika ROI bukan satu-satunya metrik yang menentukan kesuksesan pekerjaan kita? Di sinilah pentingnya untuk memahami tujuan pemasaran unik kita sebelum menjalankan dan mengukur kampanye dan strategi pemasaran.

Perlu diketahui bahwa tidak semua hal dalam kampanye digital marketing kita akan menunjukkan hasil ROI secara lansgung. Sebagai contoh, lead generation dan jumlah klik bisa dihitung, tapi metrik tersebut tidak memiliki nilai uang yang mampu menggambarkan ROI. Jika kita mengukur semua kesuksesan pemasaran dari nilai pendapatan berupa uang dan keuntungan materi, kita akan melewatkan efektivitas dari upaya pemasaran kita.

Mengidentifikasi Key Performance Indicator (KPI)

Masing-masing bisnis adalah unik dan berbeda. Bahkan, bisnis kita memiliki keunikan dan perbedaan dari pesaing kita, dan KPI kita harus mencerminkan hal ini. Jika kita mencoba menerapkan KPI dari perusahaan/brand lain, pada akhirnya kita akan mendapatkan data yang tidak berguna bagi kita sendiri.

Di bawah ini adalah KPI yang bisa kita terapkan:

1. Pengunjung Bulanan

KPI ini membuat kita mengetahui berapa banyak orang yang mengklik ke website kita selama sebulan. Untuk data yang lebih spesifik, metrik ini dapat disegmentasikan berdasarkan sumber traffic seperti organik, berbayar, atau sosial.

2. Cost Per Lead

Metrik ini dihitung secara otomatis oleh Google Ads dan menunjukkan berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk mendapatkan masing-masing lead yang kita dapatkan.

3. Cost per Acquisition (CPA/CAC)

Kita bisa menggunakan metrik ini untuk mempelajari berapa banyak biaya yang kita habiskan dalam mengakuisisi pelanggan. CPA bisa didapatkan dari menghitung pembagian total pengeluaran pemasaran kita dengan jumlah pelanggan yang diperoleh.

4. Return on Ad Spend (ROAS)

Metrik KPI ini digunakan untuk menghitung keuntungan yang dihasilkan melalui iklan dan total biaya yang dikeluarkan untuk membuat iklan. Dihitung dengan (pendapatan/total pengeluaran iklan) *100.

5. Average Order Value (AOV)

Metrik KPI ini berguna untuk perusahaan e-commerce, B2B, dan perusahaan-perushaan yang menawarkan jasa sebagai produk mereka. Metrik ini memungkinkan kita untuk mengetahui nilai pembelian setiap pelanggan setiap kali mereka membeli produk kita.

6. Customer Lifetime Value (CLTV)

Seberapa berharga pelanggan kita? Metrik ini dapat menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu, KPI ini bisa berguna untuk segala macam bisnis, terutama bisnis e-commerce.

7. Lead-to-Close Ratio

Rasio ini dihitung dengan membagi jumlah lead dengan jumlah lead yang berhasil konversi ke penjualan. Rasio ini dapat memberi tahu kita tentang kualitas lead yang akan diserahkan kepada tim penjualan serta seberapa efektif tim penjualan Anda dalam mengarahkan lead tersebut hingga terkonversi ke penjualan. Rasio ini dapat membantu kita untuk menghitung proyeksi ROI digital marketing kita dengan rumus ini:

Proyeksi ROI = [(LTV-COGS-CAC)/(COGS+CAC)]*100

customer acquisition cost (CAC)=LTCR atau lead-to-close ratio*CPL atau cost-per-lead.
COGS adalah singkatan dari “cost of goods sold.”

8. Branded Search Lift

KPI ini menghitung seberapa banyak orang yang mencari brand kita secara spesifik. Metrik ini akan terus meningkat seiring berjalannya waktu mengikuti perkembangan brand kita dan semakin banyak orang mengenal brand kita dari waktu ke waktu. Metrik ini adalah metrik yang tepat digunakan ketika kita sedang mengukur peningkatan awarenss dari brand kita.

9. Average Position

Penempatan website kita di hasil pencarian dapat membuat perbedaan yang signifikan pada jumlah traffic yang diterima oleh website kita. Semakin bagus penempatan website kita, semakin besar pula potensi traffic yang akan kita terima.

Metrik ini mengukur peringkat SERP (Search Engine Results Page) dari website kita untuk kata kunci yang kita targetkan. Kita bisa menggunakan Google Analytics untuk menghitung pencarian organik terhadap website kita. Semakin tinggi peringkat kita, maka akan semakin banyak klik, pendapatan, dan ROI ke website kita, yang nantinya akan menghasilkan pendapatan dan ROI yang lebih tinggi.

10. Non-Brand CTR

Non-brand CTR mengidentifikasi seberapa baik strategi SEO kita. Metrik ini memungkinkan kita untuk mengetahui berapa banyak orang yang berkunjung ke website kita tanpa kita memasarkannya.

Memastikan Metode Pengumpulan Data

Untuk mengukur KPI kita, sistem dan metode pengumpulan data kita harus mampu menghasilkan data dengan baik. Jika ada inkonsistensi dalam bagaimana cara data-data diinput, dikumpulkan, ditransfer, ataupun dihitung, kita akan mendapatkan data dan informasi yang cenderung berpengaruh buruk terhadap KPI dan angka ROI kita.

KPI yang tidak akurat tidak akan berguna dalam menilai seberapa efektif upaya digital marketing kita dalam menemukan, menarik, dan menkonversi konsumen.

Sebelum kita mengumpulkan data, kita harus mengidentifikasi KPI mana yang akan kita gunakan. KPI-KPI ini harus selaras dengan keseluruhan strategi pemasaran, tujuan, dan objectives kita. Hal ini juga memudahkan kita untuk menemukan dan mengimplementasikan software pengumpulan data yang cocok dengan anggaran pemasaran perusahaan kita dan memiliki fitur-fitur yang memenuhi kebutuhan bisnis untuk pengukuran KPI kita. Hal tersebut penting baik untuk tim pemasaran maupun tim penjualan yang tergabung dalam strategi pemasaran kita.

Gunakan Hasil KPI untuk Mengukur ROI

Bagaimana jumlah website traffic, CPL. SERP, dan jumlah shares post Instagram bisa berpengaruh terhadap ROI digital marketing kita? KPI-KPI ini sendiri merupakan indikator tentang seberapa baik atau buruknya usaha digital marketing kita dalam menarik pelanggan dan menghasilkan konversi.

Jika media sosial media kita menghasilkan interaksi yang baik dengan lead yang besar, atau jika kita memproduksi konten yang berkualitas, kita akan berpotensi untuk mendapatkan pemasukan dan penjualan dari brand recognition dan authority.

Jika kita mengoptimalkan konten-konten di website kita, kita mungkin akan melihat jumlah ROI yang meningkat karena website traffic yang lebih baik dan durasi pengunjung website yang lebih lama.

Apa ROI yang Tepat untuk Digital Marketing?

ROI yang tepat bergantung pada tolok ukur ROI apa yang sedang kita ukur. Mengukur ROI bisa dengan cara mengamati KPI spesifik apa yang digunakan kompetitor kita di industri yang sama, yang relevan terhadap bisnis kita. Jika kita beriklan di Google Ads, conversion rate rata-ratanya adalah sekitar 2,4%.

Penting untuk diingat bahwa order value kita akan menjadi yang tertinggi untuk pencarian direct dan traffic serta email marketing. Media sosial biasanya menghasilkan order value terendah. Untuk tingkat konversi email marketing, MailChimp menerbitkan laporan yang menginformasikan tentang tolok ukur ROI yang sesuai menurut berdasarkan perusahaan, industri, unsubscribe rates, open rates, dan click-through rates.

Selain melihat tolok ukur masing-masing industri bisnis, kita juga dapat melihat kembali riwayat angka dan data kinerja perusahaan kita. Kita harus memperhatikan metrik ROI yang kita gunakan sebelumnya dan menilai apakah metrik tersebut masih relevan jika diaplikasikan saat ini.

Kita juga dapat melihat kembali lonjakan dan penurunan kinerja online marketing kita dan mencoba menganalisa mana strategi yang berjalan dengan baik dan mana yang tidak. Model bisnis kita juga akan membantu kita menentukan KPI dan ROI mana yang baik dalam menilai upaya pemasaran kita.

Menghitung ROI dalam digital marketing bergantung pada banyak faktor termasuk audiens, ukuran perusahaan, tujuan bisnis, dan industri. Terkadang ROI saja bukanlah metrik terbaik untuk mengukur kesuksesan kampanye pemasaran kita. Alih-alih hanya berpatokan terhadap ROI, kita juga harus menganalisa KPI-KPI kita dan bagaimana KPI tersebut bisa cocok dengan keseluruhan strategi kampanye kita, agar ROI digital marketing bisa bertumbuh.

Semoga artikel ini bermanfaat!

0

Write A Comment

×

Dapatkan insight dan berdiskusi langsung seputar Digital Marketing, Sosial Media, tips website development, dan lowongan kerja di Grup Telegram.

GRATIS!

Join Grup Telegram